Penelitian Dosen UNIMUDA Sorong Kembangkan Model Papua Merah Putih Berbasis PEDiRAKU untuk Penguatan Nasionalisme Peserta Didik Inklusif
Sorong, 26 Agustus 2026 — Tim dosen Universitas Pendidikan Muhammadiyah (UNIMUDA) Sorong melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) sebagai bagian dari penelitian pengembangan Model Pembelajaran Papua Merah Putih Berbasis Platform PEDiRAKU untuk Penguatan Nasionalisme Peserta Didik Inklusif.
Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur pendidikan, mulai dari perguruan tinggi, Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan (SMA/SMK).
FGD menjadi ruang kolaborasi antara peneliti, dosen, guru, dan mahasiswa untuk memberikan masukan terhadap desain serta implementasi model pembelajaran yang dikembangkan agar sesuai dengan karakteristik peserta didik pada berbagai jenjang pendidikan.
Kegiatan secara resmi dibuka oleh Kepala Lembaga Penelitian, Publikasi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP3M) UNIMUDA Sorong, Hendra Sudirman.
Penelitian ini diketuai oleh Dr. Roni Andri Pramita, M.Pd., dengan anggota tim Dr. Firman, M.Pd. dan Siti Fatihaturrahmah Al Jumroh, M.Pd. Penelitian turut melibatkan mahasiswa, yaitu Muhammad Imam Mudin Badali, Ishella Faidan, dan Filzha Muzita.
Mengintegrasikan Nasionalisme dan Kearifan Lokal Papua
Model Pembelajaran Papua Merah Putih dikembangkan sebagai pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai kebangsaan dengan kekayaan budaya dan kearifan lokal Papua.
Implementasi model tersebut didukung melalui Platform PEDiRAKU yang dirancang untuk menghadirkan proses pembelajaran yang lebih kontekstual, inklusif, dan adaptif terhadap keberagaman karakteristik serta kebutuhan belajar peserta didik.
Dalam FGD, peserta bersama tim peneliti melakukan pemetaan sejumlah kearifan lokal Papua yang dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran, antara lain Noken, Ukiran Asmat, Rumah Kaki Seribu, Mahkota Papua, Tifa, Suling Tambur, dan Batik Papua.
Pemetaan dilakukan secara lintas jenjang agar integrasi kearifan lokal dapat disesuaikan dengan materi, karakteristik peserta didik, dan tujuan pembelajaran masing-masing satuan pendidikan.
Pada jenjang Sekolah Dasar, kearifan lokal Papua diarahkan pada materi keragaman budaya, nilai-nilai Pancasila, kehidupan sosial, serta seni budaya.
Pada jenjang SMP, integrasi dikembangkan melalui materi keberagaman, pendidikan karakter, kerja sama, gotong royong, penghargaan terhadap budaya lokal, dan penguatan identitas budaya Papua.
Sementara pada jenjang SMA/SMK, kearifan lokal Papua diintegrasikan dalam materi kebinekaan, pelestarian budaya, keragaman budaya, nilai gotong royong, identitas nasional, hingga ekonomi kebangsaan.
Adapun pada jenjang perguruan tinggi, kearifan lokal Papua dikembangkan dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, khususnya pada materi Wawasan Nusantara, Identitas Nasional, Integrasi Nasional, dan Ketahanan Nasional.
Mendorong Pembelajaran Inklusif dan Kontekstual
Pemetaan lintas jenjang tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan Model Papua Merah Putih karena nilai nasionalisme tidak hanya disampaikan secara konseptual, tetapi juga dikaitkan dengan pengalaman, lingkungan sosial, dan budaya peserta didik.
Melalui pendekatan tersebut, peserta didik diharapkan memahami bahwa identitas budaya Papua merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari identitas nasional Indonesia.
Nilai persatuan, keberagaman, toleransi, gotong royong, demokrasi, dan tanggung jawab kebangsaan menjadi bagian penting yang ingin diperkuat melalui implementasi model pembelajaran ini.
Peserta FGD juga memberikan berbagai masukan terhadap pemanfaatan Platform PEDiRAKU, baik dari sisi materi, strategi pembelajaran, aksesibilitas, maupun kesesuaiannya dengan kebutuhan peserta didik inklusif.
Masukan dari perguruan tinggi dan sekolah selanjutnya menjadi dasar bagi tim peneliti untuk melakukan penyempurnaan model sebelum diterapkan dan dievaluasi pada tahapan penelitian berikutnya.
Didukung Pendanaan Penelitian Terapan Tahun 2026
Kegiatan ini merupakan bagian dari penelitian yang memperoleh Pendanaan Tahun 2026 dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat melalui skema Penelitian Terapan – Luaran Model.
Melalui penelitian tersebut, tim dosen UNIMUDA Sorong berupaya menghasilkan model pembelajaran yang dapat menjadi alternatif dalam penguatan nasionalisme peserta didik inklusif dengan tetap berpijak pada karakteristik sosial dan budaya Papua.
FGD juga menjadi bagian penting dalam memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan satuan pendidikan sehingga hasil penelitian tidak berhenti pada tataran konseptual, tetapi dapat dikembangkan berdasarkan kebutuhan nyata pembelajaran di sekolah.
Model Papua Merah Putih berbasis PEDiRAKU diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam membentuk peserta didik yang nasionalis, demokratis, inklusif, menghargai keberagaman, serta memiliki kebanggaan terhadap budaya Papua sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia.