Peluang Jagung sebagai Komoditas Ekspor di Papua Barat
Peluang Jagung sebagai Komoditas Ekspor di Papua Barat
(Aldila Mawanti Athirah, Dosen Prodi Agribisnis FST UNIMUDA Sorong)
Hampir seluruh masyarakat mengenal jagung. Jagung adalah salah satu tanaman pangan terpenting di dunia setelah padi dan gandum. Berbagai negara di dunia menjadikan jagung sebagai sumber karbohidrat utama seperti di Amerika Tengah dan Selatan.
Komoditas jagung saat ini menjadi komoditas nasional yang cukup strategis. Dominan penggunaan jagung selain untuk konsumsi juga sebagai bahan baku pakan ternak, oleh karena itu harga pakan ternak sangat berpengaruh terhadap harga hasil ternak seperti daging dan telur. Dalam nomenklatur ekonomi tanaman pangan Indonesia, jagung merupakan komoditas penting kedua setelah padi/beras. Akan tetapi, dengan berkembang pesatnya industri peternakan, jagung merupakan komponen utama (60%) dalam ransum pakan. Diperkirakan lebih dari 55% kebutuhan jagung dalam negeri digunakan untuk pakan, sedangkan untuk konsumsi pangan hanya sekitar 30%, dan selebihnya untuk kebutuhan industri lainnya dan bibit. Dengan demikian, peran jagung sebetulnya sudah berubah lebih sebagai bahan baku industri dibanding sebagai bahan pangan (Kasryno et al, 2007). Selain itu jagung digunakan sebagai hijauan pakan ternak, baik diambil minyaknya dari bulir, dibuat tepung yang dikenal dengan tepung jagung atau maizena dan bahan baku industri dari tepung bulir maupun tepung tongkolnya. Tepung jagung kaya akan pentosa, yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan furfural. Jagung yang telah direkayasa genetika juga sekarang ditanam sebagai penghasil bahan farmasi.
Trend Produksi dan Produktivitas Jagung di Provinsi Papua Barat

Mentan Komitmen Bangun Pertanian Bumi Papua. Ada potensi 7 juta ha lahan yang bisa ditanami komoditas tanaman pangan dan hortikultura. Jagung sendiri mencapai 11 ribu hektar. Kabupaten Sorong penghasil tanaman Palawija, diantaranya adalah jagung. Ditahun 2021 Kementan menggelontorkan total bantuan pertanian untuk Kabupaten Sorong Rp 7,2 miliar.
Perkembangan Volume Ekspor-Impor Jagung di Indonesia

Neraca ekspor-impor jagung baik dilihat dari sisi volume maupun nilainya menunjukkan perkembangan yang cenderung negatif. Kecenderungan ini disebabkan permintaan jagung yang tinggi seperti industri pakan ternak dan belum sepenuhnya dipenuhi oleh produksi jagung dalam negeri.
Mengapa kita perlu melakukan perdagangan, padahal ketersediaan SDA di Indonesia melimpah?
Alasan pertama, karena surplus
Produk sawit Indonesia itu mencapai 35 juta ton, konsumsi minyak goreng, biodiesel, kosmetik yang digunakan dunia sawit di dalam negeri itu hanya menggunakan 10 juta ton. Jadi, kita kelebihan 25 juta ton, harus dijual kemana? Diekspor. Karet Indonesia 60% di ekspor. Kakao Indonesia 70% di ekspor. Orang Indonesia ada yang pernah makan cokelat, kita semua. Itu yang baru pertanian. Belum lagi produk yang lain. Itu alasan pertama karena kita memang berlebih.
Alasan yang kedua: Ini kisah nyata 1 kelompok petani di Cianjur, Berapa produksi beras Cianjur? Itu amat sangat bagus (berasnya pulen, rasanya enak, wangi, kualitasnya kualitas premium, kelompok petani ini tidak menghasilkan banyak, mereka hanya menghasilkan kira-kira, 1 kelompok itu setiap musim mungkin kira-kira menghasilkan 1000 ton, 1 kelompok tani. Tetapi karena berasnya adalah beras premium, wangi, kualitasnya tinggi, rasanya enak. Faktanya, beras premium cianjur itu, 1 kg nya mungkin rata-rata Rp 18.000-Rp 20.000. Para petani berfikir kenapa saya makan beras yang mahal, buat saya beras yang murah saja cukup. Mereka mencari beras yang harganya Rp 9.000. Mereka makan beras, makan nasi. Tetapi buat mereka, beras yang harganya Rp 9.000 cukup. Apa yg mereka lakukan, 1.000 ton beras yang harganya Rp 20.000 tadi dijual ke Jakarta, masuk ke supermarket, masuk ke restoran dan konsumen kelas atas yang ingin membeli harga Rp 20.000. Petani Cianjur itu kemudian membeli beras dari Grobogan Jawa Tengah yang harganya Rp 8.000-Rp 9.000 untuk makannya sendiri. Jumlahnya 1.000 ton juga. Jadi mereka menjual beras 1.000 ton yang kualitas premium seharga Rp 20.000. Mereka membeli beras kualitas medium harganya Rp 9.000, dengan itu mereka kemudian mendapatkan keuntungan dan keuntungan itu mereka gunakan menyekolahkan anak, beli produk-produk lain yang tidak dihasilkan. Alasan kedua mencari untung! Kita ekspor barang bagusnya, kita impor barang yang kurang bagus.
Alasan yang ketiga, orang yang sangat saya kagumi, orang yang di masa mudanya pekerjaan yang paling utamanya adalah pedagang. Dan beliau menjadi pedagang begitu hebatnya sehingga perusahaan istrinya menjadi perusahaan berskala besar, untung luar biasa dan membuat perusahaan & istrinya menjadi sangat kaya. Beliau mengatakan, 9 dari 10 sumber kesejahteraan datang dari Perdagangan, Nabi Muhammad Rasulullah. Beliau membuat perusahaan PT. Khadijah istrinya menjadi perusahaan yg sangat besar karen kepiawaian beliau berdagang. Salah satu sumber keuntungan utama hanya karena Nabi Muhammad dapat dipercaya, tidak pernah melebih-lebihkan. Tapi prinsip dagang itu ya tetap dagang. Jadi ekspor-impor itu, suatu yg diperlukan, sesuatu yang memberikan kesejahteraan. Negara yang melakukan kegiatan ekspor-impor adalah negara maju, negara yang tidak melakukan ekspor impor. Contohnya Korea Utara adalah negara yang tertutup. Itu adalah negara miskin. Hampir semua negara yg menutup diri menjadi negara miskin. Cina begitu hebat karena setelah mereka menutup diri setelah rezim yang monsentum kemudian membuka diri melalui pimpinan Den Chongping pada waktu itu. Pertumbuhan ekonominya menjadi 11%. Berdagang adalah sumber kesejahteraan.
Kita harus berdagang yang cerdas, tidak boleh berdagang dengan asal berdagang, kita harus mengukur dengan sangat baik berapa sebenarnya porsi perdagangan kita, kita harus betul-betul memilah dan memilih dengan baik, dengan bijak bagaimana caranya. Hal apa yang kita gantungkan, nasib kita kepada perdagangan kalau ada ingat rumus ini sederhana saja Makro.
Y= C+I+G+ (X-M)
Ini perdagangan, dalam manajemen kesejahteraan nasional, kita harus bisa mengukur dengan baik berapa porsi X-M terhadap GNP, dia harus cukup bermakna tetapi jangan terlalu besar. Singapura misalnya, dimana X-M itu lebih besar dari pada GNPnya. Ekspornya lebih besar daripada GNPnya. Kenapa? Karena Singapur menjadi negara yang melayani jasa perdagangan. Indonesia saat ini posisi X-M, ini kurang lebih 30%. Kurang lebih kira2 30% saat ini. Ini adalah situasi yang sehat, sudah cukup sehat, mungkin bisa dinaikkan sedikit 35% tetapi jangan lebih tinggi dari ini. Itu yang pertama pertimbangannya, kalau tergantung pada ini, kita akan berhadapan dengan resiko. Berdagang itu menjadi sumber kesejahteraan tetapi ada resikonya. Resikonya adalah bahwa pasar Internasional itu ternyata tidak selalu stabil, tidak selalu tersedia.