• Beranda
  • Artikel
  • Ketika Mahasiswa Bahasa Inggris Naik Panggung: Refleksi dari Pelatihan MC di STKIP Hermon Timika
Ketika Mahasiswa Bahasa Inggris Naik Panggung: Refleksi dari Pelatihan MC di STKIP Hermon Timika

Ketika Mahasiswa Bahasa Inggris Naik Panggung: Refleksi dari Pelatihan MC di STKIP Hermon Timika

Ketika Mahasiswa Bahasa Inggris Naik Panggung: Refleksi dari Pelatihan MC di STKIP Hermon Timika

 

Oleh: Ridwan Nur

(Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Hermon Timika)

BAYANGKAN seorang mahasiswa berdiri di belakang mikrofon. Lampu sorot menerangi wajahnya yang menegang. Di hadapannya, deretan kursi penuh dengan dosen, tamu undangan, dan rekan-rekan sejawat. Tangannya bergetar memegang catatan. Dalam hatinya, ratusan kata bahasa Inggris berputar-putar — tetapi entah mengapa, lidahnya seolah membeku. Inilah momen yang dialami banyak mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris ketika untuk pertama kalinya diminta tampil sebagai Master of Ceremony (MC) di acara resmi.

Pemandangan seperti ini mungkin terdengar biasa. Tetapi bagi saya — sebagai dosen yang menyaksikan transformasi mereka dari semester ke semester — pemandangan ini menyimpan satu pertanyaan besar tentang apa yang sebenarnya kita wariskan kepada generasi muda kita di bangku perkuliahan. Apakah kita hanya membekali mereka dengan pengetahuan, atau juga dengan keberanian untuk menggunakan pengetahuan itu?

Beberapa waktu lalu, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Hermon Timika menyelenggarakan Pelatihan MC bagi mahasiswa, yang dipandu langsung oleh rekan dosen kami, Ridwan Nur. Pelatihan ini bukan sekadar kegiatan rutin atau pengisi waktu luang; ia adalah respons strategis terhadap satu kebutuhan yang sering kali luput dari perhatian kurikulum perguruan tinggi: keterampilan tampil di hadapan publik.

Bahasa Inggris yang Berhenti di Kelas

Selama bertahun-tahun, kita mengajarkan mahasiswa Bahasa Inggris berbagai keterampilan: tata bahasa yang rumit, kosakata yang luas, kemampuan menulis akademik, hingga teori-teori pembelajaran yang kompleks. Mereka dapat menulis esai sepuluh halaman dalam Bahasa Inggris yang baik. Mereka mengenal Halliday, Krashen, dan Vygotsky di luar kepala. Tetapi ketika tiba waktunya berdiri di depan podium, di depan kamera, atau di depan kerumunan — banyak dari mereka kehilangan kata.

Mengapa demikian? Karena Bahasa Inggris di banyak ruang kelas kita masih dipelajari sebagai teks, bukan sebagai suara. Sebagai pengetahuan, bukan sebagai kehadiran. Padahal, di dunia nyata — terutama di era media sosial, podcast, dan video — bahasa adalah pertunjukan. Bahasa adalah panggung. Bahasa adalah kemampuan menggerakkan audiens dengan kata-kata yang tepat pada saat yang tepat.

Inilah celah yang berusaha diisi oleh pelatihan MC yang dipandu Ridwan Nur. Selama beberapa sesi intensif, mahasiswa tidak hanya belajar tentang teori menjadi pembawa acara — mereka praktik menjadi pembawa acara. Mereka mempraktikkan opening yang memukau, mengelola jeda dengan tenang, membaca suasana audiens, dan — yang paling penting — bertahan ketika hal tak terduga terjadi di atas panggung.

Lebih dari Sekadar Hosting

Bagi yang awam, MC mungkin terdengar seperti pekerjaan sederhana: cukup punya suara yang lantang dan beberapa lelucon di kantong. Tetapi siapa pun yang pernah benar-benar mencoba berdiri di panggung dalam Bahasa Inggris tahu — menjadi MC adalah orkestrasi yang kompleks. Seorang MC yang baik harus menguasai setidaknya lima keterampilan secara bersamaan: penguasaan bahasa yang lentur, kepekaan terhadap suasana, kemampuan improvisasi, manajemen waktu yang cermat, dan kepercayaan diri yang otentik.

Untuk mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris, semua keterampilan ini bukan sekadar bonus; mereka adalah modal yang akan terus mereka gunakan sepanjang karier. Seorang guru yang nantinya berdiri di depan kelas pada dasarnya adalah seorang MC. Ia harus menarik perhatian, menjaga ritme, membaca ekspresi siswa, dan beradaptasi dengan situasi yang tak terduga. Keterampilan MC, dalam arti yang paling luas, bukan hanya untuk acara wisuda atau seminar — keterampilan ini adalah keterampilan mengajar itu sendiri.

Lebih jauh lagi, di dunia yang semakin terhubung secara global, lulusan Pendidikan Bahasa Inggris yang mampu berbicara di hadapan publik dalam Bahasa Inggris akan memiliki peluang yang jauh lebih luas. Mereka dapat menjadi MC acara internasional yang kini semakin sering diadakan di Papua — terutama dalam konteks pariwisata, konferensi keilmuan, dan pertemuan lintas budaya. Mereka dapat menjadi narator video pembelajaran, podcaster pendidikan, atau bahkan content creator yang menghasilkan pendapatan dari kemampuan berbicara mereka di layar.

Bahasa Inggris di banyak ruang kelas kita masih dipelajari sebagai teks, bukan sebagai suara. Sebagai pengetahuan, bukan sebagai kehadiran.

Membangun Kepercayaan Diri Anak Papua

Ada satu dimensi lain dari pelatihan ini yang tidak boleh diabaikan: dimensi pemberdayaan. Mahasiswa Bahasa Inggris di Papua, terutama dari latar belakang multilingual learners, sering kali tumbuh dengan rasa tidak yakin terhadap kemampuan Bahasa Inggris mereka. Mereka mendengar bahwa aksen mereka berbeda atau bahwa pelafalan mereka belum sempurna. Pelan-pelan, kepercayaan diri itu terkikis — dan ketika tiba saatnya berbicara di hadapan publik, kepercayaan diri yang sudah lemah itu pun runtuh sepenuhnya.

Pelatihan seperti yang dipandu Ridwan Nur ini, dengan kesabaran dan pendekatan yang konstruktif, mengembalikan apa yang sering kali terampas: keyakinan bahwa suara mereka layak didengar. Bahwa cara mereka berbicara Bahasa Inggris — dengan segala kekhasan dan ritme lokalnya — memiliki tempat di panggung dunia. Bahwa menjadi anak Papua bukanlah halangan untuk berdiri sejajar dengan siapa pun di hadapan kerumunan.

Saya percaya, inilah pendidikan yang sesungguhnya. Bukan hanya transfer pengetahuan, tetapi transformasi kepercayaan diri. Bukan hanya membentuk kompetensi, tetapi membangun identitas. Mahasiswa yang keluar dari pelatihan ini bukan hanya membawa pengetahuan baru tentang teknik MC, tetapi membawa pulang sebuah kesadaran: bahwa mereka mampu.

Pesan untuk Pendidikan Tinggi Kita

Pelatihan MC di STKIP Hermon Timika ini, betapa pun kecil skalanya, membawa pesan penting bagi pendidikan tinggi kita secara umum: kita tidak boleh lagi memisahkan hard skills dari soft skills. Kurikulum kita harus berani memasukkan pelatihan keterampilan yang selama ini dianggap tambahan — keterampilan presentasi, MC, public speaking, storytelling, dan komunikasi profesional — sebagai komponen inti, bukan sekadar pelengkap di luar jam kuliah.

Bagi rekan-rekan dosen di seluruh perguruan tinggi Papua, mari kita renungkan dengan jujur: berapa banyak mahasiswa kita yang lulus dengan Indeks Prestasi tinggi tetapi tergagap di hadapan wawancara kerja pertamanya? Berapa banyak yang menulis skripsi dengan baik tetapi tak mampu mempresentasikannya dengan meyakinkan di depan penguji? Berapa banyak yang fasih membaca Bahasa Inggris di atas kertas, tetapi membisu ketika harus mengucapkannya di hadapan orang lain?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini terlalu sering memilukan. Dan inilah saat yang tepat untuk memperbaikinya. Kita memerlukan lebih banyak Ridwan Nur — dosen-dosen yang berani keluar dari rutinitas mengajar konvensional untuk menyediakan ruang-ruang pembelajaran yang sesungguhnya menyentuh kehidupan mahasiswa.

Naik Panggung dengan Berani

Saya teringat seorang mahasiswa yang, di akhir pelatihan, berhasil membuka sebuah acara dengan Bahasa Inggris yang lancar — di mana sebelumnya ia bahkan enggan berbicara di kelas. Saya melihat sinar di matanya ketika ia turun dari panggung. Bukan hanya kebanggaan, tetapi sesuatu yang lebih dalam: pengakuan diri bahwa ia mampu. Pengakuan yang tidak bisa diberikan oleh dosen mana pun, karena hanya bisa lahir dari pengalaman tampil itu sendiri.

Inilah hasil sesungguhnya dari pendidikan yang baik. Bukan nilai di atas kertas, bukan piagam yang dipajang di dinding ruang tamu, melainkan transformasi diri yang membawa seseorang dari keraguan menuju keyakinan, dari kebisuan menuju suara.

Terima kasih kepada Ridwan Nur dan seluruh tim pelaksana pelatihan, yang telah menunjukkan bahwa pendidikan yang berdampak tidak harus selalu besar dan mewah. Kadang ia datang dalam bentuk sebuah pelatihan sederhana di ruang kuliah, di mana mahasiswa belajar untuk naik panggung dengan berani — satu langkah kecil yang akan mereka ulang sepanjang hidup mereka.

Mari kita perbanyak ruang-ruang seperti ini. Karena di setiap panggung yang berani dinaiki seorang mahasiswa Papua, terlahir satu suara baru yang akan turut menyusun masa depan negeri kita.