• Beranda
  • Artikel
  • Kacamata Psikologi Perkembangan Memandang Masa Pensiun
Kacamata Psikologi Perkembangan Memandang Masa Pensiun

Kacamata Psikologi Perkembangan Memandang Masa Pensiun

Kacamata Psikologi Perkembangan Memandang Masa Pensiun

Oleh: Fuad Ardiansyah

(Dosen Universitas Pendidikan Muhammadiyah UNIMUDA Sorong)

Memasuki masa pensiun bisa diartikan ketika seseorang telah memasuki usia tertentu dan memilih untuk tidak lagi bekerja. Pada masa pensiun, setiap orang akan mengalami masa transisi yang mengantar kita memasuki tatanan kehidupan yang baru. Pada tatanan ini setiap orang harus beradaptasi pada prubahan rutinitas sehari-hari. Adapun faktor yang menyebabkan seseorang bisa beradaptasi pada keseharian yang baru disebabkan oleh tiga hal, yakni perilaku sosial, sumberdaya pribadi, dan keuangan. (Szinovacz, 2003).

Berdasarkan tinjaun kacamata psikologi perkembangan jika dilihat dari rentang awal usia pensiun yakni sekitar 57 tahun atau lebih dikenal sebagai fase dewasa pertengahan. Selanjutnya, manusia akan memasuki usi 60 tahun atau dalam psikologi perekembangan dikenal sebagai fase dewasa lanjut. Pada fase inilah, manusia akan melakukan peninjauan hidup, menyesuaikan peran sosial yang baru, serta mengalami penurunan fungsi organ tubuh yang berimplikasi pada datangnya beberapa resiko mudah terserang penyakit.

Memutuskan untuk memasuki usia pensiun juga bukan perkara gampang, banyak faktor yang perlu dipersiapkan untuk memasuki masa ini. Pada hakikatnya, kesiapan seseorang memasuki masa pensiun dipengaruhi oleh penerimaan, kesiagaan, serta kesediaan seseorang terhadap segala bentuk perubahan, salah satu di antaranya dengan tidak lagi bekerja (Wardana, 2014).

Setiap orang yang memiliki persiapan matang menyambut masa pensiun punya resiko rendah terhadap ketakutan dan rasa cemas pada perubahan. Intinya, jika seseorang memiliki kesiapan diri, makakemungkinan dia akan memasuki pensiun dengan nyaman. Umumnya setiap orang harusnya merasa senang jika memasuki masa pensiun karena akan terbebas dari tugas dan pekerjaan sehari-hari yang membelenggunya.

Berdasarkan sejumlah studi terkait kesehatan psikologis orang yang pensiun menunjukkan bahwa seseorang yang memasuki masa pesiun menjalani hidupnya lebih bahagia dibandingkan sebelum masa pensiun. Kebahagiaan ini ditunjukkan dengan beberapa variable kesehatan psikologis, di anataranya: kepuasan hidup, kulaitas hidup, dan kebebasan. Selain itu, memasuki masa pensiun ternyata bisa menurunkan setres dan deperesi (Lindwall, M. dkk., 2017)

Namun masa pensiun bisa menjadi masa paling mencekam dalam fase kehidupan seseorang yang tidak memiliki persiapan serius. Masa pensiun memiliki beberapa efek samping, diantaranya: lemah dalam mengambil keputusan, merasa hampa, rasa percaya diri menurun, kegelisahan akan datangnya kematian, menurunnya penghasilan, merasa tidak berharga, tidak mampu mengaktualisasika diri, dll. Osborn, J. (2012)

Mau dipersiapka atau tidak, waktu akan terus melaju dan usia semakin hari akan semakin menua dan masa pensiun pun tak terhindarkan. Setiap orang tentu memiliki strategi masing-masing dalam menyambut masa pensiun. Adapun pilihan yang paling bijak yakni sejak dini bisa melek masa pensiun agar dapat meminimalisir dampak negative atau efek samping dari masa pensiun di kehidupan kita selanjutnya.