SAGU YANG TERPINGGIRKAN BISA MENJADI JAJANAN SEHAT

SAGU YANG TERPINGGIRKAN BISA MENJADI JAJANAN SEHAT

SAGU YANG TERPINGGIRKAN BISA MENJADI JAJANAN SEHAT

Oleh:

Yusnita La Goa, M.T.

(Dosen Program Studi Teknik Kimia FST UNIMUDA Sorong)

Eva Maya Sari, M.Si..

(Dosen Program Studi Agribisnis FST UNIMUDA Sorong)

 

Sagu (Metroxylon Sagu Rottb) merupakan tanaman penghasil pati potensial, namun pengolahannya masih sangat terbatas. Tanaman sagu banyak dijumpai di Indonesia, khususnya di wilayah Indonesia bagian timur. Sagu merupakan bahan makanan pokok masyarakat Maluku, Papua, Mentawai dan daerah-daerah lain di Indonesia. Sagu mengandung karbohidrat  yang cukup tinggi, sehingga dapat menjadi bahan pangan alternatif selain beras. Sampai sekarang masih banyak masyarakat pedalaman di Indonesia mengonsumsi sagu sebagai makanan pokok. Makanan berupa olahan sagu memiliki peran penting dalam mengatasi kekurangan pangan nasional, serta dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap beras sebagai makanan pokok. Kandungan kalori dan gizi sagu tidak kalah dengan sumber pangan lain. Oleh karena itu, membangun ketahanan pangan  nasional  melalui  konsumsi sagu  dapat menjadi jalan keluar dalam mengatasi masalah tersebut.

Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) yang juga Ketua Masyarakat Sagu Indonesia, MH Bintoro mengatakan, dari sekitar 5,5 juta hektar (ha) lahan sagu di Indonesia, 5,2 juta ha berada di Provinsi Papua dan Papua Barat. “Cadangan sagu di Papua merupakan yang terbesar di dunia, namun selama ini yang dimanfaatkan tidak sampai 1 persen. Sebagian besar mati sia-sia,” kata Bintoro. Salah satu daerah penghasil sagu, yakni di Kota Sorong, Provinsi Papua Barat, memiliki kawasan pesisir yang memiliki potensi sebagai habitat tanaman rumbia. Sejauh ini, pohon rumbia dapat menjadi salah satu sumber pendapatan bagi masyarakat setempat melalui usaha pengolahan batangnya menjadi sagu mentah, maupun dari sagu mentah menjadi beberapa jenis makanan. Saat ini teknologi budidaya dan pengolahan sagu sudah  dipandang  serius  oleh  pemerintah.   Hal  ini  mengingat  sagu berpotensi besar untuk pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat, melalui beragam olahan seperti roti, biskuit, mie, serta aneka olahan lain.

Umumnya, tanaman sagu yang telah diproduksi menjadi tepung sagu hanya dijadikan sebagai makanan pengganti nasi, seperti papeda  dan kapurung,  juga menjadi kue-kue, seperti kue bagea. Tanaman sagu yang telah diolah menjadi tepung sagu atau pati sagu dapat dimanfaatkan sebagai jajanan masa kini, misalnya snack bar. Snack bar sendiri merupakan salah satu produk makanan siap saji komersial bergizi seimbang, mengandung protein, karbohidrat, serat, vitamin, mineral, dan energi yang dapat mencegah rasa lapar (King, 2006; Ryland dkk., 2010; Wyatt, 2011).

Sagu seharusnya bisa diangkat nilainya tidak hanya sebagai makanan tradisional namun menjadi makanan yang sehat yang diperlukan manusia. Hal ini karena Salah satu makanan yang dapat mengontrol gula darah adalah sagu menurut penelitian yang dilakukan oleh Wahjuningsih 2016 menemukan bahwa responden yang diberi makan 100% nasi sagu mempunyai Indeks Glikemik (IG) yang rendah yaitu 40.7 (Wahjuningsih, 2016).

Dengan demikian jika diolah secara modern menjadi snack bar  diharapkan dapat menambah nilai sagu dan dapat meningkatkan tingkat ekonomi masyarakat Papua sebagai petani sagu.